Tiom, Lanny Jaya – Puluhan massa menggelar aksi mimbar bebas di Tugu Salib Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Jumat 01 Mei 2026, memperingati 63 Tahun Hari Aneksasi Papua ke dalam NKRI. Aksi yang berlangsung sejak pukul 10.28 hingga 12.55 WIT itu mengusung tema _Invasi Militer Non Organik dan Tragedi Kemanusiaan di Kabupaten Lanny Jaya_.
Aksi dihadiri Juru Bicara KNPB Lanny Jaya Pendius Wenda, Sekretaris Umum SEPAHAM Yomanak Risky Yigibalom, Korlap Umum Yawen Wenda, serta sekitar 40 peserta dari komunitas SEPAHAM dan Pangkalan Ojek Tiom.
Dalam orasinya, massa menyampaikan penolakan keras terhadap keberadaan Militer Non Organik di wilayah Distrik Kuyawage hingga Gelok Beam. Mereka juga mengutuk praktik militerisme yang disebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan pengungsian warga.
“Kami masyarakat Lanny Jaya meminta pertanggungjawaban Bupati dan DPRD atas hilangnya warga Distrik Melagi atas nama Yoban Wenda akibat operasi militer non organik pada tahun 2025,” tegas Korlap Umum Yawen Wenda saat membacakan pernyataan sikap.
Adapun tuntutan yang diserahkan kepada pengurus KNPB Sektor Baliem Barat meliputi: mengutuk praktik militerisme di Lanny Jaya, mendesak penarikan militer non organik, dan meminta pertanggungjawaban pemerintah daerah atas kasus Yoban Wenda.
Untuk mengamankan jalannya aksi, Polres Lanny Jaya mengerahkan 70 personel gabungan dari Polres, Satgas ODC, Satgas Gakkum, Satgas 511, dan Koramil 1713/LJ. Kapolres Lanny Jaya AKBP Frans D. Tamaela yang memimpin langsung apel pengamanan menegaskan agar personel tidak terpancing dan penggunaan senjata api sesuai protap.
“Kami berterima kasih kepada Polres yang sudah hadir mengamankan dan memberi ruang untuk menyampaikan aspirasi,” ujar Yawen Wenda dalam pembukaan mimbar bebas.
Kapolres Lanny Jaya menyebut aksi berjalan lancar dan tertib. Namun aparat tetap mewaspadai potensi penyebaran informasi melalui media sosial pasca aksi. “Kami akan terus monitor perkembangan situasi dan meningkatkan patroli di seputaran Kota Tiom,” ungkapnya.
Aksi mimbar bebas ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 1 Mei yang oleh sebagian kelompok disebut sebagai Hari Aneksasi Papua.(BW)









































